Hari pertama menulis sambil membaca
January 7, 2009
<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Ancol, 07 Januari 2009
Hari ini adalah hari pertamaku untuk rajin menulis agar semakin hari tulisanku semakin baik. Inilah aksi yang harus digulirkan setelah otak dijejali segudang kata dari Hernowo penulis Mizan itu. Tapi inti untaian kata-kata Hernowo dalam “Langkah Mudah Membuat Buku yang Menggugah” adalah menulis dan menulis.
Awalnya pagi ini saya ingin menulis paper tentang mangrove di Belitung. Tapi, setelah saya lihat data-datanya, saya merasa tidak sanggup menuangkannya menjadi sebuah paper berkualitas. Akibatnya saya kehilangan arah, apa yang mau dikerjakan hari ini. Sudah berapa kali jarum jam berkeliling hari ini, sementara saya berkeliling-keliling di dunia maya yang tak berbatas hingga akhirnya kehilangan arah tujuan. Akhirnya waktu menunjukkan jam 11.28, saya belum menghasilkan apa-apa hari ini. Damn…. Banyak sekali waktu yang telah kusia-siakan. Untung ada “Numerical Ecology”, yang sedianya saya baca tahun lalu.
Tahun ini saya bertekad memahami “Numerical Ecology” dan “Century Model”. Hari ini ku buka lembaran bab pertama dari “Numerical Ecology”. Untuk selanjutnya saya namai buku ini NE.
Di pelajaran pertamanya, NE berkata bahwa dasar dari metodologi umum untuk analisis data ekologi adalah melihat hubungan yang ada antara kondisi-kondisi di sekitar objek ekologi yang diteliti dan outcome-nya (sampai titik ini, saya belum memahami apa itu outcome?). …jadi deh buka kamus…
Dalam Oxford Learner’s Pocket Dictionary, Outcome diartikan sebagai results atau effect. Jadi kalau diterjemahkan ke Bahasa mungkin arti outcome adalah hasil, efek , pengaruh.
Kalau di dalam fenomena fisika, hubungan atau pengaruh yang terdapat dalam kondisi alami dan eksperimental itu bersifat exact, pasti. Tapi di dalam fenomena ekologi, banyak hasil atau efek yang dihasilkan oleh suatu kondisi karena banyak variabel yang berpengaruh di dalamnya, yang belum bisa dikenali oleh pengamat atau memang secara inherent dalam objek tersebut. Misalnya variasi genetik pada objek biologis. Lalu bagaimana menemukan hubungan dan efeknya yang ‘pasti’?
Kita tahu bahwa jika pengamatan diulang dengan kondisi yang sama, maka suatu saat akan menemukan frekuensi relatif dari efek yang mungkin muncul. Dengan kata lain, ada kecenderungan beberapa efek yang paling sering muncul. Dan yang paling sering muncul di antara yang sering muncul itulah yang dipilih sebagai efek dari suatu kondisi ekologis. Ingat kurva lonceng…..
Hmmm.. setelah shalat dan makan siang… akhirnya saya bisa kembali duduk di depan laptopku. Buku tebal yang tadi kubaca masih belum berubah posisinya di samping laptop, terbuka pada halaman 2 dan 3, sementara laptop sudah HANG… Saya juga heran, akhir-akhir ini laptopku sering ngeHang…
Ok.. kembali ke soal buku.
Berapa detik aku tertegun..mungkin menit. Aku tertegun ketika menemukan bahwa hubungan antara kondisi lingkungan alami dan hasil/efek tidak hanya berupa hubungan deterministik (only one possible result) atau random (many possible results, each one with recurrent frequency). Waah… kesimpulanku selama ini mengenai hubungan sebab akibat salah total… ternyata ada perkembangan baru. Jadi, hubungan seperti ini terdapat empat bentuk, yaitu : deterministic, random, strategic dan uncertain.
Hubungan strategic menjelaskan bahwa hasil tergantung pada strategi tertentu yang dimiliki oleh organisme dan lingkungannya. Kemudian hubungan ini lebih dikenal dengan “Game Theory”. Hubungan uncertain menjelaskan bahwa banyak sekali kemungkinan yang akan terjadi dari suatu kondisi, atau hasilnya tidak bisa diprediksi. Kemudian hubungan ini dikenal dengan “Chaos Theory”.
Ok…kayaknya hubungan deterministik sudah tidak perlu dibahas lagi, karena teori ini sudah lama sekali dikenal orang. “Game Theory” dan “Chaos Theory” tidak akan dibahas lebih detail. Tampaknya ini akan ditunda dulu sampai waktu yang tidak ditentukan. Mungkin sampai buku yang sedang dibaca ini selesai dibaca, karena buku ini lebih banyak membahas hubungan random.
Data pengamatan ekologis biasa disusun dalam bentuk matriks, kolomnya menjelaskan variabel (kehadiran spesies, kelimpahan, biomassa atau kondisi fisika-kimia), sedangkan barisnya menjelaskan tapak atau waktu sampling. Data ekologi yang komplek ini menunjukkan dimensi yang banyak, multidimensi (multivariate). Data yang komplek ini harus dianalisis sehingga menghasilkan interpretasi yang tepat. Oleh karena itu, kita memerlukan suatu metode numerik untuk menganalisisnya.
STRUKTUR EKOLOGI
Koefisien asosiasi Time-series
Klustering Spatial data
Ordinasi
Interpretasi struktur ekologi
Regresi, path analysis dan canonical analysis
STRUKTUR SPATIO-TEMPORAL
time series
spatial data
aah….mentok uy…
mentok uy… ada yang ngajak ngobrol jadi aja tidak bisa dilanjutkan….